PUSARA
ITU
Oleh Tyas
Hapsari
Samar-samar aku melihatnya di robekan malam yang
gulita, sedikit sangsi, apakah memang dia? Lampu teras yang hanya seperti
kunang kunang ditengah belantara jelas memihak aksi kaburnya. Wajahnya tak
terlihat sama sekali olehku tapi dari caranya berlari aku merasa itu memang
dia. Tiga tahun kebersamaanku dengannya memberi banyak
kenangan tentang dia. Bagaimana dia berjalan, bagaimana dia tersenyum,
bagaimana dia berbicara, bagaimana dia melihat, bagaimana dia marah dan
bagaimana dia berkata bagaimana, bibirnya akan melebar kesamping, membentuk
lesung pipit di pipi kanannya, manis sekali.
“Tunggu !!!” teriakku lantang, tak perduli aku kalau akibat
aksiku tadi para tetangga sekitarku terlonjak dari kasur mereka, yang
terpenting aku tak kehilangan dia lagi. Dia tak menggubris, terus berlari
kencang, menyibak semak semak di belakang rumahku.
“Tunggu !!” jeritku lagi, aku terseok seok mengikuti
langkah kakinya yang panjang panjang. Dia terus saja berlari tanpa menoleh
sedikitpun kebelakang. Nafasku tersenggal senggal, dadaku berdetak cepat sekali
seperti dikompa hampir meledak.
“tunggu Lip” desis ku begitu lirih. Tenaga ku habis sudah, Aku menyerah, tergolek lemah di tanah, membiarkan angin
malam mempermainkan rambutku. Air mata ku sedikit sedikit
mulai memberontak keluar. Aku biarkan, aku biarkan mereka merongrong keluar, tak perduli lagi aku pada harga diriku, sungguh aku
lelah.
***
Aku
terbaring di ranjangku lagi, padahal 2 hari yang lalu keadaanku sudah membaik
setelah hampir sebulan jatuh sakit. Mataku terpejam tapi pikiranku tak pernah
terlelap sedikitpun. Terdengar ketukan berirama di pintu kamarku. Aku terlalu
lelah, malas bangun, malas bicara kuputuskan untuk pura pura tidur. Tak ada
jawaban, Sang pengetuk memutuskan menerobos wilayah ku tanpa izin, aku tak
keberatan, dari langkah kakinya Aku tahu dia orang yang amat sangat ku kenal.
Dia duduk membonceng di sebelahku yang terbaring, perlahan tangan lembutnya
membelai rambutku yang basah oleh keringat dingin dan keningku yang di penuhi
peluh sebesar biji jagung. Dia melirik
lemari disebelah ranjang kemudian memungut sebuah saputangan dari dalam salah
satu laci, mengusap usapnya perlahan kekeningku, semenit, dua menit dia terus
saja mengusap, menyapu wajah ku dengan saputangan itu.
“Kau tahu, saputangan ini pemberian
dari seorang yang sangat Aku cintai, Anaku, dia bilang kalau Aku menghapus air mata karena kehilangan dia dengan ini maka semua rasa
perih, pedih, terluka dengan ajaib akan lenyap, dia bilang mungkin kami memang
tak ditakdirkan untuk bersama tapi….”
Bunda ku
mulai terisak, dia mengunjal nafas untuk melanjutkan kalimat selanjutnya, “tapi
dia bisa memastikan bahwa hatinya akan selalu tersimpan untukku disaputangan ini, hanya untukku”
Butiran – butiran air menetes
berjatuhan dipipiku, itu milik Bunda ku. “hiks…hiks… tak
bisakah kau hapus semuanya dengan
saputangan ini?? Hiks…hiks… seperti aku
dulu, aku sangat memahami apa yang kau rasakan, putriku, aku paham hiks…” bunda
menekan dadanya seperti mencoba menghentikan pendarahan pada luka lamanya yang
terbuka lagi, “aku tau kau tak pernah benar-benar terlelap, putriku,”
Aku
mengerjap ngerjap, “apa bunda juga tahu kalau rasanya setelah kehilangan dia, aku tak ingin bangun lagi setelah tidur malam kemarin
atau nanti atau besok atau lusa, pokoknya secepatnya deh” Aku tersenyum sambil mengusap pipi Bunda ku yang basah “tapi semua rasa itu sekejap akan
hilang kalau melihat Bunda tersenyum, Bunda harus terus tersenyum kalau tak ingin melihat aku
bunuh diri” ucapku sekenanya,
Bunda ku menarik
kedua ujung bibirnya terpaksa membuat senyuman “tersakit” yang pernah kulihat, Aku miris, kepedihan luka yang tertoreh di hatiku tampak lebih
fatal dihati Bunda, bunda lebih terluka ketimbang aku. Aku
merengkuh tubuhnya yang kurus renta. “Bunda jangan khawatir, Aku akan segera sembuh dan insyaallah pernikahan bulan
depan akan tetap berlangsung” bisiku mantap.
***
Bulan
berganti begitu cepat, tanpa kusadari kursi pelaminan telah di usung ke rumahku lengkap dengan kursi kursi untuk para undangan. Walau
tak sadar tapi aku telah siap. Dengan hati yang telah berkeping keping -bahkan
mungkin telah menjadi bubuk kepingannya karena terus saja terinjak ijak beban berat bertubi tubi- aku coba tersenyum
tulus di depan para fotografer yang sibuk menjeprat jepret gambarku. Begitu pun
Bundaku. Senyum palsunya mengambang di wajah sabarnya, ayahku? Entahlah bagaimana air mukanya
sekarang, apa dia tersenyum atau menangis melihatku dari surga sana. Paman ku yang
telah didaulat menjadi waliku hari ini pun tak jauh
berbeda ekspresinya dengan kami. Keluargaku yang lainya aku rasa sama, jadi aku
putuskan untuk tak menatap mereka satu satu, hanya khusyuk memanjatkan doa yang
campur aduk.
Selang
beberapa menit mempelai priaku datang. Seorang pria tinggi dengan kulit sawo
matang, bewajah lonjong, alisnya yang tebal bergandengan satu sama lain, di
bawahnya sebuah kelopak dengan bulu mata yang tak lentik tempat sepasang biji
mata yang hitam teduh dipadu dengan ukuran bibir yang pas, tidak tipis tidak
tebal. Kemudian giginya yang berjajar rapi memperindah kolaborasi wajahnya yang
terlihat begitu berseni. Banyak orang yang memasukannya dalam kategori tampan
sedangkan aku hanya ada dalam tahap nominasi pas pasan. Tapi aku tak merasa
beruntung karna telah menjadi calon istrinya, bagiku dia hanya satu satunya
jalan keluar. Berita pernikahanku yang terlanjur dipublikasikan tak mungkin
begitu saja dibatalkan. Bagaimana keluargaku akan menjelaskannya “calon suami
anaku kabur tanpa ada kabar sebulan yang lalu.” Harus begitu kah? Kurasa tidak.
Wirat, nama
laki laki itu. Dengan tatapannya yang begitu gagah dia menyapu ruangan ini.
Kemudian, bak seekor elang, matanya yang teduh menukik
tajam ke arahku. Mengamatiku yang berpakaian kebaya putih dengan rok yang dimodifikasi
seperti jarik. Aku yang tak memiliki rasa kepadanya hanya membuang muka. Entah
bagaimana selanjutnya, aku hanya melamun. Sampai kemudian tersadar dengan koor
“SAAAAHHHH”yang serempak oleh para tamu undangan. Aku tersenyum
getir, tak ada keajaiban yang terjadi, tak ada pertolongan Tuhan yang datang
di detik detik terahir. Atau memang
dialah pertolongan terahirku? Aku telah menjadi istrinya.
Mungkin ini memang takdirku.
***
Di besarkan di lingkungan panti asuhan
menjadikan seorang Wirat begitu mandiri. Setelah pernikahan dia langsung
membopongku ke rumahnya yang dia peroleh dari hasil jerih payahnya sendiri.
Kami hidup berdua, dalam satu rumah, satu kamar bahkan satu ranjang. Tapi tak pernah
sedikitpun dia menyentuhku, dalam tidurnya yang lelap pun Aku rasa tak pernah. Percakapan pun hanya berkutat pada “Aku pulang kerja nanti jam 5, kamu mau aku beliin oleh
oleh apa?” ucapnya setiap pagi setelah sarapan, tanpa lupa memasang senyumnya
yang begitu menawan. Aku hanya memandang sekejap, menggeleng lemah kemudian berkutat
membereskan piring kotor yang berserakan di meja. Setelah itu dia bangkit dari
kursinya “ya udah kalau gitu Aku pamit kerja dulu yah.” Aku mengangguk, mengantarkannya sampai ke pintu “hati
hati di jalan” kataku sambil mencium tangannya, setidaknya hanya itu yang mampu
Aku lakukan dan katakan untuknya setiap hari. Aku tidak
mau menjadikan dia korban keegoisanku. Bagaimana mungkin orang sebaik dia, yang
telah dengan baik hatinya meminangku walau tau bahwa Aku hanya seorang calon pengantin milik orang lain yang
telah dicampakan dan bahkan sedikitpun dia tak pernah mengenalku. Dia seperti
seseorang yang diturunkan dari langit untuk membantu memulihkan kehormatanku.
Hingga suatu
minggu pagi kebekuan kami terpecah.
“apa kau
masih membencinya?” ucapnya lirih,
matanya yang hitam teduh menyoroti wajahku.
“siapa ?”
balasku datar. Sambil tak melepas tatapanku dari majalah yang sedang Aku tekuni
“seseorang,
hmmm,,, yang pernah menjadi calon suamimu” katanya hati hati
Aku
menatapnya “tak akan pernah ku maafkan orang seperti dia
sampai aku mati sekalipun.”
“lantas
bagaimana kau akan memulai hidupmu yang baru dengan ku kalau kau masih terus
saja membenci sekaligus mencintainya sedalam itu”
Aku
menurunkan majalahku, sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraan ini
kemana, ”ketika aku menerima lamaranmu ketika itulah Aku telah siap memulai hidup baru dengan mu, Aku hanya butuh waktu untuk menerimamu bukan untuk
berhenti membencinya”.
Dia diam.
Menatapku penuh arti, seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi dia masih menimbang
nimbang.” Bagaimana kalau aku minta sebaliknya?” ucapnya kemudian
“maksud mu
apa?”
“Aku tak keberatan hidup denganmu tanpa penerimaan darimu
seumur hidupku, tapi Aku sangat keberatan kalau
seumur hidupmu membencinya”
Aku
mengernyit, “Membenci dia atau tidak itu hak ku, apa urusanmu?
Toh Kau pun tak mengenal dia, apa pentingnya bagimu kalau aku
memaafkannya?”
Dia diam
lagi. Aku jadi tak mengerti sebenarnya arah pembicaraan ini akan kemana. “Apa pentingnya bagimu?”
ulangku lagi aku jadi makin terpancing, sepertinya ada yang ia sembunyikan dari
ku. Dia makin membisu. Aku beringsut mendekatinya, menggenggam tangannya yang
besar hangat “Mungkin Kau menikahiku hanya karena merasa kasihan, tapi bukankah kita sudah berkomitmen untuk memulai
semua ini bersama, bagaimana mungkin ini bisa berlangsung lama kalau ada banyak
rahasia di antara kita?”
Dia menatapku
iba “Memang aku menikahimu karena suruhan seseorang, tapi sungguh Aku tak pernah merasa terpaksa dan menyesal atas keputusan
ini” dia menghela nafas “tadinya Aku kira Aku bisa membuatmu benar benar melupakannya dan bahagia
bersama ku, kemudian pelahan lahan memaafkannya, tapi
setelah 6 bulan yang kita lalui bersama, Aku tak melihat tanda tanda Kau terkesima dengan semua yang telah Aku lakukan atau bahkan mengibarkan
bendera putih. ” Wirat membuang pandangannya keluar jendela, mengamati anak
anak kecil yang lalu lalang bermain di temani orangtua mereka di hari libur
yang cerah ini. “Kau lihat, Aku ingin kita menjadi
seperti mereka, separuh hidup yang kulalui tak pernah membangun sebuah cinta
seperti itu. Jika pun ada sebuah cinta tulus yang Aku terima hanya dari seseorang yang kepadanya Aku telah berjanji untuk membuatmu bahagia”
“Siapa?”
potongku cepat. Tak menjawab dia malah memelukku, kemudian dengan suara
bergetar dia merapatkan mulutnya ke telingaku. Sejurus kemudian terlontar
sebuah kata.
“Alif.” katanya singkat
Mataku
membesar, sebuah kejutan di lempar langsung menohok hatiku. Jadi semua ini ulah
darinya? Kebetulan kebetulan yang ada ini hanya rekayasa darinya? Sebuah nama
yang tak pernah aku bayangkan akan meminta seseorang sebaik Wirat untuk
membahagiakanku. Nalarku seperti mati. Ada apa sebenarnya ini? Mulutku belum
mampu berucap hanya bergerak gerak tak tentu mengeluarkan hembusan nafas. Wirat
masih memelukku.
“Aku juga berjanji kepada Alif tak akan memberitahumu tentang semua ini” desisnya.
Aku melepas
paksa pelukan Wirat, ingin memastikan kebenaran dari matanya. “Lelucon apa ini” ucapku ketika melihat pipi Wirat yang
basah. Dia menangis. Aku makin tak mengerti.
Tiba tiba
dia menggandengku, menarikku ke mobilnya.
“Kemana Kita?”
“Semua
pertanyaanmu akan di bayar lunas nanti kalau kita sudah sampai tujuan.”
Aku hanya
membisu di sepanjang perjalanan, mempercayai kata katanya. Semua pertanyaanku akan
di bayar lunas. Pikiranku berkecambuk. Meraba raba segala kemungkinan yang mampu terjadi. Belum selesai Aku merangkai sebuah kesimpulan, Aku dibuat makin
tercenung ketika mobil Wirat berhenti di sebuah Astana. Dengan sigap dia
membuka pintu mobilnya kemudian berlari kecil menghampiri pintuku untuk sekedar
membukakannya. Aku memandangnya heran, dia menggangguk mantap dan menggandengku
keluar. Dengan hati hati dia melangkah di sela sela antara pusara satu dengan
yang lainnya. Sampai kemudian dia berhenti di sebuah pusara. Sebuah pusara yang
tanahnya tak lagi menggunung, kelopak mawar yang telah kering
layu tersebar di sekitar pusara. Lalu sebuah nama
tercetak besar di papan yang tertancap
dipusara. Mulutku bergetar, menciptakan suara terbata ketika membaca si pemilik
pusara.
“AL-LIF
WI-JA-YA BIN HAR-JA WI-JA-YA” mataku menganak sungai seketika. Meluncurkan air
yang tak terbendung. Kebencian yang selama ini mencair menjadi penyesalan yang
sangat mendalam. Badan ku lemas, Aku terkulai memegangi papan
nama itu. Meraba raba tanah merah itu penuh kasih seakan aku bisa melihat jasad
sesorang yang sangat ku cintai terbaring disana. Aku menguatkan diri, membaca
lagi papan nama itu, tertulis “Wafat tanggal : 06 juni
2011” aku menangis lagi, 4 hari sebelum pernikahanku yang
seharusnya juga menjadi pernikahan Kami, dia telah
menghadap Sang Khalik. Aku makin tak bisa
mengendalikan diri. Menjerit histeris lalu rebah tak sadarkan diri.
Yang aku
ingat kemudian aku telah berada di rumah, Wirat menyedukanku teh madu, sambil
mengusap usap kepalaku dia bilang “Aku adalah sahabat Alif yang paling dekat sejak kami kecil. Sebulan sebelum
pernikahannya dia berlari kerumahku dia bilang terkena penyakit yang aku
sendiri tak tau itu apa, dia tak mengatakannya pada siapapun, dia hanya bilang mungkin akan bertahan kurang dari sebulan, dia tak ingin
melihatmu lebih terluka kalau tiba tiba pernikahanmu nanti batal karna waktu hidupnya habis. Itulah mengapa dia
ingin kau membencinya dengan tiba tiba menghilang supaya kau bisa segera berhenti mencintainya. Dia memintaku untuk menjagamu
dan tak memberitahu kebenaran. Aku tak menolak, karna bagiku bahagianya adalah
bahagiaku. Aku mau melakukan semua janji ku dengan ikhlas tapi sungguh aku tak
rela kalau harus membiarkan orang yang sangat dicintainya malah membencinya. Aku mohon maafkanlah dia”
Aku
melingkarkan tangan ke pinggang wirat, ini hari pertama dia berbicara begitu
panjang lebar “ Aku yang harusnya minta maaf,
apa Alif akan memaafkanku?” kataku mulai menangis lagi. Dia
mengusap pipiku halus,
“kalau kau mau berhenti menangis dan menjalani hidup ini
dengan baik Aku yakin Alif akan memaafkanmu”.
***