Sabtu, 16 Agustus 2014

Cerpen ku



                          

                                                          PUSARA ITU
Oleh Tyas Hapsari
 

Samar-samar aku melihatnya di robekan malam yang gulita, sedikit sangsi, apakah memang dia? Lampu teras yang hanya seperti kunang kunang ditengah belantara jelas memihak aksi kaburnya. Wajahnya tak terlihat sama sekali olehku tapi dari caranya berlari aku merasa itu memang dia. Tiga tahun kebersamaanku dengannya memberi banyak kenangan tentang dia. Bagaimana dia berjalan, bagaimana dia tersenyum, bagaimana dia berbicara, bagaimana dia melihat, bagaimana dia marah dan bagaimana dia berkata bagaimana, bibirnya akan melebar kesamping, membentuk lesung pipit di pipi kanannya, manis sekali.
Tunggu !!!” teriakku lantang, tak perduli aku kalau akibat aksiku tadi para tetangga sekitarku terlonjak dari kasur mereka, yang terpenting aku tak kehilangan dia lagi. Dia tak menggubris, terus berlari kencang, menyibak semak semak di belakang rumahku.
Tunggu !!” jeritku lagi, aku terseok seok mengikuti langkah kakinya yang panjang panjang. Dia terus saja berlari tanpa menoleh sedikitpun kebelakang. Nafasku tersenggal senggal, dadaku berdetak cepat sekali seperti dikompa hampir meledak.
“tunggu Lip” desis ku begitu lirih. Tenaga ku habis sudah, Aku menyerah, tergolek lemah di tanah, membiarkan angin malam mempermainkan rambutku. Air mata ku sedikit sedikit mulai memberontak keluar. Aku biarkan, aku biarkan mereka merongrong keluar, tak perduli lagi aku pada harga diriku, sungguh aku lelah.
***
Aku terbaring di ranjangku lagi, padahal 2 hari yang lalu keadaanku sudah membaik setelah hampir sebulan jatuh sakit. Mataku terpejam tapi pikiranku tak pernah terlelap sedikitpun. Terdengar ketukan berirama di pintu kamarku. Aku terlalu lelah, malas bangun, malas bicara kuputuskan untuk pura pura tidur. Tak ada jawaban, Sang pengetuk memutuskan menerobos wilayah ku tanpa izin, aku tak keberatan, dari langkah kakinya Aku tahu dia orang yang amat sangat ku kenal. Dia duduk membonceng di sebelahku yang terbaring, perlahan tangan lembutnya membelai rambutku yang basah oleh keringat dingin dan keningku yang di penuhi peluh sebesar  biji jagung. Dia melirik lemari disebelah ranjang kemudian memungut sebuah saputangan dari dalam salah satu laci, mengusap usapnya perlahan kekeningku, semenit, dua menit dia terus saja mengusap, menyapu wajah ku dengan saputangan itu.
Kau tahu, saputangan ini pemberian dari seorang yang sangat Aku cintai, Anaku, dia bilang kalau Aku menghapus air mata karena kehilangan dia dengan ini maka semua rasa perih, pedih, terluka dengan ajaib akan lenyap, dia bilang mungkin kami memang tak ditakdirkan untuk bersama tapi….”
Bunda ku mulai terisak, dia mengunjal nafas untuk melanjutkan kalimat selanjutnya, “tapi dia bisa memastikan bahwa hatinya akan selalu tersimpan untukku  disaputangan ini, hanya untukku”
Butiran butiran air menetes berjatuhan dipipiku, itu milik Bunda ku. “hiks…hiks… tak bisakah kau hapus semuanya  dengan saputangan ini?? Hiks…hiks… seperti  aku dulu, aku sangat memahami apa yang kau rasakan, putriku, aku paham hiks…” bunda menekan dadanya seperti mencoba menghentikan pendarahan pada luka lamanya yang terbuka lagi, “aku tau kau tak pernah benar-benar terlelap, putriku,”
Aku mengerjap ngerjap, “apa bunda juga tahu kalau rasanya setelah kehilangan dia, aku tak ingin bangun lagi setelah tidur malam kemarin atau nanti atau besok atau lusa, pokoknya secepatnya deh” Aku tersenyum sambil mengusap pipi Bunda ku yang basah “tapi semua rasa itu sekejap akan hilang kalau melihat Bunda tersenyum, Bunda harus terus tersenyum kalau tak ingin melihat aku bunuh diri” ucapku sekenanya,
Bunda ku menarik kedua ujung bibirnya terpaksa membuat senyuman “tersakit” yang pernah kulihat, Aku miris, kepedihan  luka yang tertoreh di hatiku tampak lebih fatal dihati Bunda, bunda lebih terluka ketimbang aku. Aku merengkuh tubuhnya yang kurus renta. “Bunda jangan khawatir, Aku akan segera sembuh dan insyaallah pernikahan bulan depan akan tetap berlangsung” bisiku mantap.
                                                                        ***
Bulan berganti begitu cepat, tanpa kusadari kursi pelaminan telah di usung ke rumahku lengkap dengan kursi kursi untuk para undangan. Walau tak sadar tapi aku telah siap. Dengan hati yang telah berkeping keping ­­-bahkan mungkin telah menjadi bubuk kepingannya karena terus saja terinjak ijak beban berat bertubi tubi- aku coba tersenyum tulus di depan para fotografer yang sibuk menjeprat jepret gambarku. Begitu pun Bundaku. Senyum palsunya mengambang di wajah sabarnya, ayahku? Entahlah bagaimana air mukanya sekarang, apa dia tersenyum atau menangis melihatku dari surga sana. Paman ku yang telah didaulat menjadi waliku hari ini pun tak jauh berbeda ekspresinya dengan kami. Keluargaku yang lainya aku rasa sama, jadi aku putuskan untuk tak menatap mereka satu satu, hanya khusyuk memanjatkan doa yang campur aduk.
Selang beberapa menit mempelai priaku datang. Seorang pria tinggi dengan kulit sawo matang, bewajah lonjong, alisnya yang tebal bergandengan satu sama lain, di bawahnya sebuah kelopak dengan bulu mata yang tak lentik tempat sepasang biji mata yang hitam teduh dipadu dengan ukuran bibir yang pas, tidak tipis tidak tebal. Kemudian giginya yang berjajar rapi memperindah kolaborasi wajahnya yang terlihat begitu berseni. Banyak orang yang memasukannya dalam kategori tampan sedangkan aku hanya ada dalam tahap nominasi pas pasan. Tapi aku tak merasa beruntung karna telah menjadi calon istrinya, bagiku dia hanya satu satunya jalan keluar. Berita pernikahanku yang terlanjur dipublikasikan tak mungkin begitu saja dibatalkan. Bagaimana keluargaku akan menjelaskannya “calon suami anaku kabur tanpa ada kabar sebulan yang lalu.” Harus begitu kah? Kurasa tidak.
Wirat, nama laki laki itu. Dengan tatapannya yang begitu gagah dia menyapu ruangan ini. Kemudian, bak seekor elang, matanya yang teduh menukik tajam ke arahku. Mengamatiku yang berpakaian kebaya putih dengan rok yang dimodifikasi seperti jarik. Aku yang tak memiliki rasa kepadanya hanya membuang muka. Entah bagaimana selanjutnya, aku hanya melamun. Sampai kemudian tersadar dengan koor “SAAAAHHHH”yang serempak oleh para tamu undangan. Aku tersenyum getir, tak ada keajaiban yang terjadi, tak ada pertolongan Tuhan  yang datang di detik detik terahir. Atau memang dialah pertolongan terahirku? Aku telah menjadi istrinya. Mungkin ini memang takdirku.
***
            Di besarkan di lingkungan panti asuhan menjadikan seorang Wirat begitu mandiri. Setelah pernikahan dia langsung membopongku ke rumahnya yang dia peroleh dari hasil jerih payahnya sendiri. Kami hidup berdua, dalam satu rumah, satu kamar bahkan satu ranjang. Tapi tak pernah sedikitpun dia menyentuhku, dalam tidurnya yang lelap pun Aku rasa tak pernah. Percakapan pun hanya berkutat pada “Aku pulang kerja nanti jam 5, kamu mau aku beliin oleh oleh apa?” ucapnya setiap pagi setelah sarapan, tanpa lupa memasang senyumnya yang begitu menawan. Aku hanya memandang sekejap, menggeleng lemah kemudian berkutat membereskan piring kotor yang berserakan di meja. Setelah itu dia bangkit dari kursinya “ya udah kalau gitu Aku pamit kerja dulu yah.” Aku mengangguk, mengantarkannya sampai ke pintu “hati hati di jalan” kataku sambil mencium tangannya, setidaknya hanya itu yang mampu Aku lakukan dan katakan untuknya setiap hari. Aku tidak mau menjadikan dia korban keegoisanku. Bagaimana mungkin orang sebaik dia, yang telah dengan baik hatinya meminangku walau tau bahwa Aku hanya seorang calon pengantin milik orang lain yang telah dicampakan dan bahkan sedikitpun dia tak pernah mengenalku. Dia seperti seseorang yang diturunkan dari langit untuk membantu memulihkan kehormatanku.
Hingga suatu minggu pagi kebekuan kami terpecah.
“apa kau masih membencinya?”  ucapnya lirih, matanya yang hitam teduh menyoroti wajahku.
“siapa ?” balasku datar. Sambil tak melepas tatapanku dari majalah yang sedang Aku tekuni
“seseorang, hmmm,,, yang pernah menjadi calon suamimu” katanya hati hati
Aku menatapnya “tak akan pernah ku maafkan orang seperti dia sampai aku mati sekalipun.”
“lantas bagaimana kau akan memulai hidupmu yang baru dengan ku kalau kau masih terus saja membenci sekaligus mencintainya sedalam itu”
Aku menurunkan majalahku, sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraan ini kemana, ”ketika aku menerima lamaranmu ketika itulah Aku telah siap memulai hidup baru dengan mu, Aku hanya butuh waktu untuk menerimamu bukan untuk berhenti membencinya”.
Dia diam. Menatapku penuh arti, seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi dia masih menimbang nimbang.” Bagaimana kalau aku minta sebaliknya?” ucapnya kemudian
“maksud mu apa?”
Aku tak keberatan hidup denganmu tanpa penerimaan darimu seumur hidupku, tapi Aku sangat keberatan kalau seumur hidupmu membencinya”
Aku mengernyit, “Membenci dia atau tidak itu hak ku, apa urusanmu? Toh Kau pun tak mengenal dia, apa pentingnya bagimu kalau aku memaafkannya?”
Dia diam lagi. Aku jadi tak mengerti sebenarnya arah pembicaraan ini akan kemana. “Apa pentingnya bagimu?” ulangku lagi aku jadi makin terpancing, sepertinya ada yang ia sembunyikan dari ku. Dia makin membisu. Aku beringsut mendekatinya, menggenggam tangannya yang besar hangat Mungkin Kau menikahiku hanya karena merasa kasihan, tapi bukankah kita sudah berkomitmen untuk memulai semua ini bersama, bagaimana mungkin ini bisa berlangsung lama kalau ada banyak rahasia di antara kita?”
Dia menatapku iba Memang aku menikahimu karena suruhan seseorang, tapi sungguh Aku tak pernah merasa terpaksa dan menyesal atas keputusan ini” dia menghela nafas “tadinya Aku kira Aku bisa membuatmu benar benar melupakannya dan bahagia bersama ku, kemudian pelahan lahan memaafkannya, tapi setelah 6 bulan yang kita lalui bersama, Aku tak melihat tanda tanda Kau terkesima dengan semua yang telah Aku lakukan atau bahkan mengibarkan bendera putih. ” Wirat membuang pandangannya keluar jendela, mengamati anak anak kecil yang lalu lalang bermain di temani orangtua mereka di hari libur yang cerah ini. “Kau lihat, Aku ingin kita menjadi seperti mereka, separuh hidup yang kulalui tak pernah membangun sebuah cinta seperti itu. Jika pun ada sebuah cinta tulus yang Aku terima hanya dari seseorang yang kepadanya Aku telah berjanji untuk membuatmu bahagia”
“Siapa?” potongku cepat. Tak menjawab dia malah memelukku, kemudian dengan suara bergetar dia merapatkan mulutnya ke telingaku. Sejurus kemudian terlontar sebuah kata.
Alif.” katanya singkat
Mataku membesar, sebuah kejutan di lempar langsung menohok hatiku. Jadi semua ini ulah darinya? Kebetulan kebetulan yang ada ini hanya rekayasa darinya? Sebuah nama yang tak pernah aku bayangkan akan meminta seseorang sebaik Wirat untuk membahagiakanku. Nalarku seperti mati. Ada apa sebenarnya ini? Mulutku belum mampu berucap hanya bergerak gerak tak tentu mengeluarkan hembusan nafas. Wirat masih memelukku.
Aku juga berjanji kepada Alif tak akan memberitahumu tentang semua ini” desisnya.
Aku melepas paksa pelukan Wirat, ingin memastikan kebenaran dari matanya. “Lelucon apa ini” ucapku ketika melihat pipi Wirat yang basah. Dia menangis. Aku makin tak mengerti.
Tiba tiba dia menggandengku, menarikku ke mobilnya.
Kemana Kita?”
“Semua pertanyaanmu akan di bayar lunas nanti kalau kita sudah sampai tujuan.”
Aku hanya membisu di sepanjang perjalanan, mempercayai kata katanya. Semua pertanyaanku akan di bayar lunas. Pikiranku berkecambuk. Meraba raba segala kemungkinan yang mampu terjadi. Belum selesai Aku merangkai sebuah kesimpulan, Aku dibuat makin tercenung ketika mobil Wirat berhenti di sebuah Astana. Dengan sigap dia membuka pintu mobilnya kemudian berlari kecil menghampiri pintuku untuk sekedar membukakannya. Aku memandangnya heran, dia menggangguk mantap dan menggandengku keluar. Dengan hati hati dia melangkah di sela sela antara pusara satu dengan yang lainnya. Sampai kemudian dia berhenti di sebuah pusara. Sebuah pusara yang tanahnya tak lagi menggunung, kelopak mawar yang telah kering layu tersebar di sekitar pusara. Lalu sebuah nama tercetak besar di papan yang tertancap dipusara. Mulutku bergetar, menciptakan suara terbata ketika membaca si pemilik pusara.
“AL-LIF WI-JA-YA BIN HAR-JA WI-JA-YA” mataku menganak sungai seketika. Meluncurkan air yang tak terbendung. Kebencian yang selama ini mencair menjadi penyesalan yang sangat mendalam. Badan ku lemas, Aku terkulai memegangi papan nama itu. Meraba raba tanah merah itu penuh kasih seakan aku bisa melihat jasad sesorang yang sangat ku cintai terbaring disana. Aku menguatkan diri, membaca lagi papan nama itu, tertulis “Wafat tanggal : 06 juni 2011” aku menangis lagi, 4 hari sebelum pernikahanku yang seharusnya juga menjadi pernikahan Kami, dia telah menghadap Sang Khalik. Aku makin tak bisa mengendalikan diri. Menjerit histeris lalu rebah tak sadarkan diri.
Yang aku ingat kemudian aku telah berada di rumah, Wirat menyedukanku teh madu, sambil mengusap usap kepalaku dia bilang “Aku adalah sahabat Alif yang paling dekat sejak kami kecil. Sebulan sebelum pernikahannya dia berlari kerumahku dia bilang terkena penyakit yang aku sendiri tak tau itu apa, dia tak mengatakannya pada siapapun, dia hanya bilang mungkin akan bertahan kurang dari sebulan, dia tak ingin melihatmu lebih terluka kalau tiba tiba pernikahanmu nanti batal karna waktu hidupnya habis. Itulah mengapa dia ingin kau membencinya dengan tiba tiba menghilang supaya kau bisa segera berhenti mencintainya. Dia memintaku untuk menjagamu dan tak memberitahu kebenaran. Aku tak menolak, karna bagiku bahagianya adalah bahagiaku. Aku mau melakukan semua janji ku dengan ikhlas tapi sungguh aku tak rela kalau harus membiarkan orang yang sangat dicintainya malah membencinya. Aku mohon maafkanlah dia”
Aku melingkarkan tangan ke pinggang wirat, ini hari pertama dia berbicara begitu panjang lebar “ Aku yang harusnya minta maaf, apa Alif akan memaafkanku?” kataku mulai menangis lagi. Dia mengusap pipiku halus,
“kalau kau mau berhenti menangis dan menjalani hidup ini dengan baik Aku yakin Alif akan memaafkanmu”.

***